Semakin berilmu seseorang, seharusnya ia semakin tahu akan tanda-tanda Kebesaran Allah SWT, maka seharusnya pula ia semakin beriman kepada-Nya, semoga kita bagian dari orang-orang itu, Amin.

Senin, 20 Januari 2014

Kisah nyata ini Menggetarkan Hati

Kejadiannya di sebuah desa di Jawa Tengah.

Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol motor vespanya.
Tapi tak kunjung bunyi.
“Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya.

Ia pun kemudian memiringkan vespanya.
Alhamdulillah… vespa itu
bisa distarter.
“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu
ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,”
demikian kira-kira kata hati lelaki
itu.

Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis
ngaji baru beli bensin.”

“Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan
ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,”

kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas
sedekah.
Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai
mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa
itu ingin bersedekah juga,
tetapi uangnya tinggal seribu rupiah.
Uang segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin
setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang
buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli
bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan
niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan
lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan,
sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti.

Bensin
benar-benar habis. “Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali
menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali
perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah
waktunya ndorong.”
Meski demikian, matanya berkaca-kaca,
“Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah
dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil
kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.

“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli
bensin.” Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol.
Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter.

Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali
lipat.
“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu
keduanya kembali naik Kijang.

“Untung apaan?”

“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3
anak, saya belum”

“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”

“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”

Mereka ngobrol banyak, tentang kesusahan dan kesenangan masing-masing.
Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai… “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki
Kijang.

Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak
seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum
tahu isinya berapa,”

Amplop bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu.
Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah.
Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah,
“Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

[Kisah Nyata Keajaiban Sedekah ini disarikan dari Buku “Kun Fayakun 2” karya Ust. Yusuf Mansur].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar